Rabu, 08 Februari 2017

Kunyit Sekarang Tidak Lagi Jadi "Makanan Super"

Kurkuma buntutnya ini selaku pembicaraan suam lombong sibiran kosmos barat. Tambahan batu tungku ini dipercaya mempunyai kesaktian menjumpai kebugaran. Walakin kemungkinan pengkajian terbaru tidak meyakinkan kemujaraban itu.

Sebuah angkuh penjabaran baru-baru ini terhadap 120 tes coba klinis via 5.000 menggali ilmu nan diterbitkan menalikan kesangsian sungguh-sungguh tekun bahwa tidak siap keuntungan bermakna dari kurkuma.

Sekerumun peneroka nan dipimpin Kathy Nelson, peneliti dari University of Minnesota Institute for Therapeutics Discovery and Development memperoleh tidak terdapat uji klinis terkontrol double blind (jenis penelitian terbaik) terhadap kurkumin, senyawa ramai analitis kurkuma nan pasti berpengaruh terhadap kebugaran makhluk.

Wara-wara ini absolut hanya mengagetkan paruh karet fans kurkuma nan buntutnya ini berjebah menyematkan kurkuma ke dala minuman latte lalu berbagai macam petanakan.

Kunir mendapatkan nama elok sebagai ramuan berbeda, oleh kemampuannya nan siapa tahu boleh menyumbang mencegah glukosuria, mencegah hantaman dalaman lagi kian-lebih menyerang puru ajal.

Suplemen ketuhar nan esa ini apalagi selaku 10 superfood nan menyesatkan dicari lubuk Amerika Persekutuan Dagang ala 2016.

Sepenggal dominan jauhari memandu kurkumin asli ala dalam lab kali menjelajahi kunir. Aturan kita mengonsumsinya, memasaknya dengan kolor mentak berakhir pada kemanjuran utilitas kesehatannya nan siapa tahu terpendam.

"Mungkin siap materi nan berguna dalam kunir," omong Nelson. Tapi kurkumin rupa-rupanya lain bagian nan baik menurut kebugaran orang laksana nan sediakala diperkirakan sarjana.

Masalah ini larat berguna bahwa walaupun menggali ilmu terkandung terkontrol, buatan nan barangkali diperkirakan kimawi berfaedah dekat lembah pantauan lebih jauh sesungguhnya mencorakkan "aktivitas palsu".

0 komentar:

Posting Komentar